Sambut Galungan, Pengurus YKB Gelar Pertemuan dengan Para Seniman

Anggota DPD RI, I Kadek Arimbawa memberikan apresiasi tinggi atas eksistensi dan aktifitas seniman yang tergabung dalam Yayasan Kesenian Bali (YKB) yang pada tahun ini telah menginjak usia ke tujuh tahun. Hal tersebut diungkapkannya dalam silaturahmi yang digelar oleh Pengurus Yayasan Kesenian Bali bersama para seniman seperti pragina bondres dan penyanyi pop Bali di Kantor DPD RI Perwakilan Bali, beberapa waktu lalu. Baca selengkapnya

Iklan

Profil : I Nyoman Ruma, Dibalik Buku Baris Sakral Desa Pekraman Batur


Baris sakral Batur yang terdiri dari Baris Jojor, Baris Gede, Baris Bajra, Baris Perisi, Baris Dadap dan dilengkapi dengan Tarian Rejang Renteng ini , tampaknya menjadi obyek pertanyaan bagi generasi muda di Batur.

Pertanyaan yang tidak bisa dijawab karena minimnya referensi, ditambah dengan ketakutan bahwa Baris Batur suatu saat akan ditiru seperti halnya beberapa jenis kesenian Bali dan nasional oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, membuat I Nyoman Ruma melakukan penggalian referensi dan informasi mengenai keberadaan tari baris sakral di Batur ini sejak tahun 2005 hingga akhirnya berhasil menyelesaikan penulisan buku selama 1 bulan 7 hari pada tanggal 27 Nopember 2011 dengan judul Baris Sakral Desa Pekraman Batur.

Buku yang sangat sederhana dengan hasil produksi dari mesin printer dengan kualitas rendah ini, dicetak sejumlah 20 Eksemplar. Dengan Dukungan Jero Gede Duhuran, Jero Gede Alitan, Kepala Desa Batur serta Camat Kintamani dll, Bapak Ruma yang lahir pada tahun 1943 ini berupaya untuk memohon pengakuan intelektual dan perhatian terhadap Baris Sakral Batur tersebut ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangli, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali bahkan sampai Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI di Jakarta.

Pada tahun 2011, Petugas dari Departemen Kebudayan dan Pariwisata sempat mendatangi beliau untuk meminta data tentang keberadaan baris sakral batur, walaupun sampai saat ini belum ada tindaklanjut secara nyata.

Profil : I Nyoman “Petruk” Subrata


Berkembang dari Seni Ludruk yang dikenal di Bali dari tahun 1962, Drama Gong telah mengalami masa kejayaannya sebagai hiburan yang ditunggu masyarakat Bali hingga kepelosok-pelosok desa.

Dalam proses tersebut, kita hampir melupakan sosok yang pernah menjadi ikon Drama Gong terpopuler di Bali yakni Petruk.
bernama asli I Nyoman Subrata, tokoh kelahiran 1 September 1949 ini adalah seniman serba bisa yang hingga saat ini masih eksis berkiprah dalam seni lawak dan prembon walaupun Drama Gong sudah mengalami kelesuan dalam perkembangannya.

Suami dari Ni Nyoman Sudiati dan ayah dari Ni Luh Putu Sri Pramesti serta Kadek Tresna Budi ini mulai berkiprah didrama gong pada tahun 1975. Pada tahun 1983, Bapak Nyoman Subrata juga pernah menjadi juara umum lawak Se-Bali.

Ngaturang ngayah hingga ke luar Bali seperti ; Lombok, Jakarta, Bogor, Palu, Palembang, Bontang (Kaltim) dan Pontianak ini membuktikan eksistensi beliau tidak lekang oleh arus modernisasi dan era instant saat ini.

Profil : Anak Agung Oka Hartawan


Sebagai masyarakat bercorak seni budaya dan religius, Bali telah berhasil mempertahankan identitasnya sampai pada apa yang diwariskan para leluhur kita kepada generasi penerus Bali saat ini.

Salah satunya adalah melalui warisan budaya religi disetiap desa pekraman yang senantiasa bercorak seni tradisi, menjadikan setiap jengkal budaya tersebut tetap eksis melengkapi nilai-nilai sosial dan spiritual masyarakat Bali.

Adalah Bapak Anak Agung Oka Hartawan, seorang tokoh asal Puri Kawan Tanggu-Bangli kelahiran tanggal 21 Agustus 1947, telah ikut mewarnai nilai tersebut dengan menjadi seorang pembuat Arca, Barong dan Topeng .

Berawal dari bimbingan Alm. Anak Agung Anom Rai dari Puri Denpasar-Bangli ratusan arca, barong dan topeng telah berhasil diselesaikannya dengan hanya sebuah semangat yakni ; ngayah untuk melestarikan budaya dan memenuhi panggilan jiwa.

Sebuah komitmen yang tidak pernah menuntut bayaran untuk setiap barong, arca dan topeng sakral yang diselesaikannya atas permintaan dari hampir 80 % Desa Pekraman di Seluruh Bangli ini, menjadikan beliau adalah sumber inspirasi nyata bagi kita bahwa dalam sebuah proses memaknai kehidupan, uang bukan segala-galanya.

Profil : I Nyoman Serod, Pelestari Seni Arja

Beliau adalah salah satu maestro pelestari Seniman Arja. Umur bagi beliau bukanlah halangan untuk melanjutkan misi melestarikan seni arja dan geguntangan di kabupaten Bangli. Pernah dinobatkan sebagai Pemeran Kartala Terbaik dalam Pekan Seni Arja Se-Bali pada tahun 1986 dan ngayah di berbagai desa di Bali bahkan sampai ke Pulau Jawa, menjadikan Bapak I Nyoman Serod sebagai seorang individu yang pantas untuk kita teladani

Lahir di Penatahan-Desa Susut 75 tahun silam, telah membentuk jiwa dan karakter seniman beliau sebagai pemeran kartala, yang mencapai kejayaan pada era 1967 sampai 1990.

Suami dari Ni Wayan Simpen dan ayah bagi empat putra dan putrinya yakni ; Ni Wayan Murniasih, Nengah Mudiasih dan Nyoman Selamet dan Ni Ketut Murtiningsih ini telah menerima penghargaan Seni Wija Kusuma Maha Bakti dari Bupati Bangli dan Darma Kusuma Pemerintah Propinsi Bali pada tahun 2006 sebagai bentuk pengakuan atas eksistensi dan dedikasi beliau bagi seni arja.

Profil : Alm. I Dewa Made Rai Mesi

Alm. I Dewa Made Rai Mesi, adalah seorang tokoh seni pedalangan di Kabupaten Bangli yang lahir pada Sukra Kliwon, Wuku Bala Tahun 1917. Kiprah beliau yang tidak hanya terkenal di seantero Pulau Bali dan meletakan ciri khas seni wayang Bangli, namun juga di tingkat nasional sebagai Sesepuh Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENA WANGI) sejak tahun 1983 , sampai beliau kembali ke Sisi Tuhan Yang Maha Esa pada tanggal 15 April 2011

Dengan 7 istri dan 21 anak, yang beberapa diantaranya mengikuti jejak beliau untuk melestarikan seni pewayangan,  tentu adalah sebuah inspirasi bagi kita semua untuk mengikuti jejak beliau dalam spirit  pelestarian seni dan budaya Bali.

Prestasi dan penghargaan yang beliau terima sejak tahun 1977, seperti Parade Wayang Kulit tahun 1977, Dharma Kusuma Madia Tahun 1981,  Penghargaan Menteri Kesehatan RI Tahun 1982, Dharma Kusuma tahun 1988, Penghargaan Bupati Bangli tahun 1991, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 1993, Penghargaan Gubernur Bali tahun 2006, Wija Kusuma Maha Bhakti tahun 2006 dan penghargaan lain yang tidak terhitung jumlahnya, sangat pantas jika beliau kita kenang sebagai SENIMAN SEPANJANG MASA yang akan meninggalkan kepada kita dan generasi selanjutnya sebuah inspirasi untuk melanjutkan usaha keras beliau.

Profil : I Made Linggih (Jero Mangku Teja Kandel)

Seni Nyastra Bali, mungkin adalah sebuah seni yang saat ini mulai ditinggalkan oleh generasi muda Bali. Padahal sastra Bali adalah sebuah kekuatan dan pondasi yang kuat dalam mempertahankan taksu Bali.

Adalah Bapak I Made Linggih atau yang lebih kita kenal sebagai Jero Mangku Teja Kandel, yang telah membuka mata kita, bahwa Sastra Bali, bukan hanya sekedar huruf Bali atau tulisan Bali yang kita kenal, namun jauh dari itu menyimpan sebuah kekuatan dan taksu yang luar biasa.

 Banyak spiritualis baik dari Bali maupun mancanegara telah datang kepada beliau antara lain dari Jepang, Prancis, Inggris, Amerika, Turki, Brasil dll yang ingin mempelajari sastra Bali dan mendalami kekuatan spiritual yang ada didalamnya.

 Konsep beliau, bahwa satu-satunya cara untuk melestarikan seni dan budaya Bali adalah dengan mempelajarinya, memberikan kita inspirasi bahwa seni dan budaya Bali dalam berbagai bentuk dan rupa adalah khasanah dan warisan leluhur yang harus kita jaga.