Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Hasil Dengar Pendapat MPR RI dengan Masyarakat : Gerakkan Kembali Penataran P4!

I Kadek Arimbawa anggota MPR RI dari Kelompok DPD RI mendengarkan banyak keluhan dan masukan dari masyarakat. Hal tersebut terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Anggota MPR RI bersama masyarakat pada Minggu (10/4) lalu. Kegiatan RDP dan penyerapan aspirasi ini dihadiri oleh perwakilan kelompok masyarakat di desa setempat. Lanjutkan Membaca

Raker Kemenperin – Komite II DPD RI, Kadek Arimbawa : “Bali Harus Jadi Pusat Industri Keatif”

Besarnya potensi yang dimiliki Bali di bidang pariwisata dan industri, membuat Senator Bali I Kadek Arimbawa semakin gencar melakukan komunikasi dengan pemerintah untuk merealisasikan program kementerian Perindustrian di Bali. Hal tersebut diwujudkan dalam pertemuan dengan Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Saleh Husin dalam RDP Komite II DPD RI di Gd. B DPD RI, Komplek Parlemen Senayan, Jakarta-Pusat, 6 Februari 2015

1

Menteri Perindustrian Saleh Husin didampingi pejabat Eselon I Kementerian Perindustrian, melakukan Rapat Kerja membahas Pelaksanaan Program Kerja Kementerian Perindustrian tahun 2014 dan Rencana Kerja Kementerian Perindustrian tahun 2015 dengan Anggota Komite II DPD-RI, yang dipimpin Parlindungan Purba dari Sumatera Utara

2

Dalam pertemuan tersebut, Arimbawa secara pribadi menyampaikan usulan untuk menjadikan Bali sebagai Pusat Industri kreatif. Bali merupakan wilayah potensial yang telah mampu melahirkan tenaga-tenaga kreatif serta didukung pesona kearifan lokal. Atas dasar itulah Arimbawa menilai bahwa industri kreatif merupakan sektor potensial yang dapat berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi termasuk, penciptaan lapangan kerja di Bali. Lanjutkan Membaca

Kejutan di Pawai Budaya Jembrana 2013 : Lolak Berikan Anugerah Pelestari Budaya Pada Bupati Jembrana

Selain menyapa ribuan penggemarnya di Kabupaten Jembrana, kehadiran Lolak dalam pawai budaya Jembrana pada(31/8) ternyata juga membawa misi berbeda. Lolak yang hadir bersama pengurus Yayasan Kesenian Bali Cabang Jembrana menyiapkan sebuah kejutan khusus pada Bupati Jembrana. Apa itu ? bacaselengkapnya

Bahasa dan Sastra Bali ‘Akar’ Budaya Bali

Jika masyarakat masih ingin menegakkan kebudayaan Bali, sastra dan bahasa Bali perlu mendapatkan perhatian. Demikian dikatakan mantan dosen Sastra Daerah FS Unud Drs. I Nengah Medera, M.Hum.,
aksi demo basa bali
Ilustrasi : aksi demo para tokoh, akademisi dan mahasiswa di Wantilan DPRD Bali, Kamis (17/1).Mereka menolak penghapusan Pelajaran Bahasa Bali dari kurikulum 2013

Ibarat tumbuh-tumbuhan, pohon budaya Bali itu adalah desa pakraman, sedangkan akarnya bahasa dan sastra Bali. Dari pohon itu tumbuh cabang, ranting, bunga dan buah.

Roh hidup dari pohon budaya itu yakni agama Hindu. Namun, kenyataannya orang baru sebatas berlomba memetik bunganya atau merebut sari bunga budaya Bali. Tetapi ketika diajak memupuk akar dan memelihara pohon budaya Bali, orang masih setengah-setengah. Terbukti, ketika ada anak-anak berprestasi di bidang budaya, perhatian orang tidaklah begitu besar. Berbeda dengan perhatian yang diraih di bidang olah raga. Karena itu pihaknya mengimbau, jika ingin mengajegkan budaya Bali, perhatikan bahasa dan sastra Bali.

Sementara Kepala UPTD Balai Pengembangan Kegiatan Belajar Provinsi Bali Drs. I.B. Anom, M.Pd., Senin (6/10) kemarin mengatakan bahasa, aksara dan sastra Bali tiang penyangga budaya Bali. Karena itu bahasa Bali perlu dilestarikan. Guru bahasa Bali memiliki peran yang amat besar untuk melestarikan bahasa ibu orang Bali tersebut.

‘Dalam rangka menjaga keajegan Bali, bahasa Bali mesti mendapat perhatian. Jika bahasa, aksara dan sastra Bali tidak lestari, jati diri orang Bali akan pudar. Dalam rangka melestarikan bahasa, aksara dan sastra Bali, guru-guru bahasa Bali sebagai ujung tombak penting terus ditingkatkan profesionalismenya,’ katanya. Dengan semakin profesionalnya para guru bahasa Bali diharapkan akan berimbas pada anak didik. Sebab, generasi muda Balilah yang akan mewarisi bahasa Bali. Di pundak mereka, bahasa Bali diharapkan terus hidup dan terhindar dari kepunahan. (08)

Sumber : Bali Post edisi Kamis 5 November 2009

Memantapkan Upaya Rekonstruksi Kesenian Langka

DAHSYATNYA gempuran arus modernisasi, tampaknya memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap keterdesakan sejumlah kesenian tradisional Bali. Tidak sedikit dari kesenian tradisional itu terancam punah lantaran sudah sangat jarang dipentaskan. Bahkan, beberapa di antaranya sudah lenyap tanpa bekas. Kekahawatiran seputar terjadinya “kematian” massal kesenian-kesenian tradisional pun menyeruak.

Parwa Seni Langka di Bali pada 1950an
Ilustrasi : Parwa ini merupakan salah satu seni langka di Bali. Seni parwa merupakan kesenian yang mengambil lakon cerita Mahabharata yang dahulu sangat populer di Bali terutama pada era tahun 1950’an

Jika upaya rekonstruksi tidak secepatnya dilakukan, dipastikan kesenian tradisional Bali yang beberapa di antaranya difungsikan sebagai seni bebali dan wali (menjadi bagian penting dari ritual keagamaan – red) akan tinggal nama. Generasi Bali masa depan tidak pernah lagi mengenal bagaimana rupa tari Legong Leko yang kaya akan unsur-unsur pelegongan atau tari Legong Keraton Pelayon yang mengedepankan keindahan gerak yang sangat kompleks dan dinamis maupun barisan panjang kesenian-kesenian langka lainnya. baca selengkapnya