Memantapkan Upaya Rekonstruksi Kesenian Langka

DAHSYATNYA gempuran arus modernisasi, tampaknya memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap keterdesakan sejumlah kesenian tradisional Bali. Tidak sedikit dari kesenian tradisional itu terancam punah lantaran sudah sangat jarang dipentaskan. Bahkan, beberapa di antaranya sudah lenyap tanpa bekas. Kekahawatiran seputar terjadinya “kematian” massal kesenian-kesenian tradisional pun menyeruak.

Parwa Seni Langka di Bali pada 1950an
Ilustrasi : Parwa ini merupakan salah satu seni langka di Bali. Seni parwa merupakan kesenian yang mengambil lakon cerita Mahabharata yang dahulu sangat populer di Bali terutama pada era tahun 1950’an

Jika upaya rekonstruksi tidak secepatnya dilakukan, dipastikan kesenian tradisional Bali yang beberapa di antaranya difungsikan sebagai seni bebali dan wali (menjadi bagian penting dari ritual keagamaan – red) akan tinggal nama. Generasi Bali masa depan tidak pernah lagi mengenal bagaimana rupa tari Legong Leko yang kaya akan unsur-unsur pelegongan atau tari Legong Keraton Pelayon yang mengedepankan keindahan gerak yang sangat kompleks dan dinamis maupun barisan panjang kesenian-kesenian langka lainnya.

Tampaknya, kecemasan serupa juga menyelimuti para decission maker di Dinas Kebudayaan (Disbud) Propinsi Bali. Pada tahun anggaran 2008 ini, instansi pemerintah yang bertanggung jawab terhadap kelestarian seni budaya Bali ini akan mengucurkan dana Rp 250 juta untuk kepentingan itu. Untuk tahap awal, tercatat 18 jenis kesenian langka di sembilan kabupaten/kota di Bali yang keberadaannya terancam punah akan dimasukkan ke dalam daftar kesenian yang akan direkonstruksi dan direvitalisasi. “Kami bertekad untuk memantapkan upaya-upaya rekonstruksi kesenian-kesenian langka yang saat ini hampir tidak pernah dipentaskan lagi,” kata Kepala Disbud Propinsi Bali Drs. I Nyoman Nikanaya, M.M. kepada Bali Post, Jumat (25/1) kemarin.

Nikanaya tidak menampik, sejatinya barisan kesenian tradisional Bali yang terancam mati pelan-pelan lantaran gagal melahirkan generasi penerus teramat panjang. Realita ini juga menggerakkan pihaknya menjadikan kegiatan rekonstruksi dan revitalisasi kesenian-kesenian langka itu sebagai program strategis Disbud Propinsi Bali untuk rentang waktu beberapa tahun ke depan. Diharapkan, kabupaten/kota se-Bali juga menggulirkan program serupa sehingga upaya rekonstruksi tersebut lebih cepat bisa dituntaskan.”Saya sangat menghargai jika komponen masyarakat Singapadu dengan kesadaran sendiri tergerak untuk membangunkan kesenian Gambuh Singapadu dari tidur panjangnya. Tidak ada alasan bagi kami untuk tidak mendukung kegiatan tersebut,” katanya sambil menambahkan, kegiatan rekonstruksi dan revitalisasi Gambuh Singapadu merupakan salah satu dari 18 jenis kegiatan rekonstruksi yang sudah masuk agenda Disbud Propinsi Bali.

Keterbatasan Referensi

Menurut Nikanaya, penyebab utama kesenian-kesenian tradisional Bali tidak mampu mempertahankan eksistensinya di jagat seni Bali lantaran kegagalan proses regenerasi. Karena gagal mencetak generasi pewaris, usia kesenian pun hanya sebatas usia pelaku kesenian itu. Begitu senimannya meninggal dunia, maka lenyap pula kesenian itu. “Seringkali, kita memang melupakan pentingnya kaderisasi itu. Ketika pelaku aktif kesenian itu sudah tidak ada dan keseniannya tidak pernah dipentaskan lagi barulah kita blingsatan dan merasa sangat kehilangan,” katanya mengingatkan.

Untuk membangkitkan kembali kesenian-kesenian tradisional yang sudah lama tak kedengaran kabar beritanya, kata dia, tidak ada jalan lain yang bisa dilakukan selain melakukan rekonstruksi. Sayang, proses rekonstruksi ini tidak selamanya berjalan mulus. Seringkali, seniman-seniman yang pernah jadi pelaku aktif kesenian itu seluruhnya sudah meninggal dunia sehingga pihak-pihak yang melaksanakan aktivitas rekonstruksi itu kehilangan pijakan. Kehilangan sumber referensi utama sebagai titik awal untuk memulai pekerjaan. Sementara di pihak lain, seniman-seniman Bali di masa lampau sangat jarang mendokumentasikan karya-karyanya. “Keterbatasan referensi itu seringkali menjadi batu sandungan terbesar setiap kali kami melakukan upaya rekonstruksi terhadap kesenian-kesenian langka. Lain persoalan jika senimannya masih ada, kita bisa merekonstruksi karya itu berdasarkan ingatan dari seniman tersebut,” ujarnya.

Pendapat serupa juga dilontarkan Kasubdin Kesenian Disbud Propinsi Bali I Made Santha, S.E., M.Si. Dia menegaskan, rekonstruksi dalam bidang seni sangat penting. Melalui rekonstruksi itu, kita bisa membangkitkan jenis-jenis kesenian yang tumbuh dan berkembang di masa lampau serta mengetahui nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Selain itu, aktivitas rekonstruksi itu juga bisa dijadikan media yang sangat representatif untuk membandingkan karya-karya seni di masa lampau dengan karya-karya seni di masa kini sekaligus memacu kreativitas untuk memunculkan karya-karya yang lebih berkualitas di masa depan.”Tidak jarang, karya-karya seniman masa lampau bisa dijadikan sumber inspirasi oleh seniman di masa kini dalam berkarya. Tentu saja dengan sejumlah inovasi dan pergulatan kreatif yang disesuaikan dengan kondisi yang ada saat ini. Tari Selat Segara yang dikenal sebagai tari penyambutan saat ini, misalnya, terinspirasi dari tari Rejang, Pendet dan Gabor,” katanya. Santha menambahkan, esensi dari aktivitas rekonstruksi adalah membangkitkan kembali kesenian yang berada di ambang kepunahan maupun sudah punah.

Dengan kata lain, kegiatan ini mengusung misi pelestarian di mana nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kesenian itu harus tetap terjaga dan tumbuh berkembang di masyarakat. Karenanya, kesenian hasil rekonstruksi itu wajib dikembalikan kepada masyarakat selaku pemilik kesenian itu. Selanjutnya, masyarakat sendiri yang akan menjaga dan mengembangkan kesenian itu. “Seni rekonstruksi itu harus dikembalikan kepada masyarakat di mana kesenian itu hidup. Kalau tidak begitu, rekonstruksi itu akan menjadi kegiatan yang sia-sia karena akan kembali mati dengan sendirinya,” tegasnya. * w. sumatika

Sumber : Bali Post Edisi Online 26 Januari 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s