Bahasa dan Sastra Bali ‘Akar’ Budaya Bali

Jika masyarakat masih ingin menegakkan kebudayaan Bali, sastra dan bahasa Bali perlu mendapatkan perhatian. Demikian dikatakan mantan dosen Sastra Daerah FS Unud Drs. I Nengah Medera, M.Hum.,
aksi demo basa bali
Ilustrasi : aksi demo para tokoh, akademisi dan mahasiswa di Wantilan DPRD Bali, Kamis (17/1).Mereka menolak penghapusan Pelajaran Bahasa Bali dari kurikulum 2013

Ibarat tumbuh-tumbuhan, pohon budaya Bali itu adalah desa pakraman, sedangkan akarnya bahasa dan sastra Bali. Dari pohon itu tumbuh cabang, ranting, bunga dan buah.

Roh hidup dari pohon budaya itu yakni agama Hindu. Namun, kenyataannya orang baru sebatas berlomba memetik bunganya atau merebut sari bunga budaya Bali. Tetapi ketika diajak memupuk akar dan memelihara pohon budaya Bali, orang masih setengah-setengah. Terbukti, ketika ada anak-anak berprestasi di bidang budaya, perhatian orang tidaklah begitu besar. Berbeda dengan perhatian yang diraih di bidang olah raga. Karena itu pihaknya mengimbau, jika ingin mengajegkan budaya Bali, perhatikan bahasa dan sastra Bali.

Sementara Kepala UPTD Balai Pengembangan Kegiatan Belajar Provinsi Bali Drs. I.B. Anom, M.Pd., Senin (6/10) kemarin mengatakan bahasa, aksara dan sastra Bali tiang penyangga budaya Bali. Karena itu bahasa Bali perlu dilestarikan. Guru bahasa Bali memiliki peran yang amat besar untuk melestarikan bahasa ibu orang Bali tersebut.

‘Dalam rangka menjaga keajegan Bali, bahasa Bali mesti mendapat perhatian. Jika bahasa, aksara dan sastra Bali tidak lestari, jati diri orang Bali akan pudar. Dalam rangka melestarikan bahasa, aksara dan sastra Bali, guru-guru bahasa Bali sebagai ujung tombak penting terus ditingkatkan profesionalismenya,’ katanya. Dengan semakin profesionalnya para guru bahasa Bali diharapkan akan berimbas pada anak didik. Sebab, generasi muda Balilah yang akan mewarisi bahasa Bali. Di pundak mereka, bahasa Bali diharapkan terus hidup dan terhindar dari kepunahan. (08)

Sumber : Bali Post edisi Kamis 5 November 2009

Iklan

Memantapkan Upaya Rekonstruksi Kesenian Langka

DAHSYATNYA gempuran arus modernisasi, tampaknya memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap keterdesakan sejumlah kesenian tradisional Bali. Tidak sedikit dari kesenian tradisional itu terancam punah lantaran sudah sangat jarang dipentaskan. Bahkan, beberapa di antaranya sudah lenyap tanpa bekas. Kekahawatiran seputar terjadinya “kematian” massal kesenian-kesenian tradisional pun menyeruak.

Parwa Seni Langka di Bali pada 1950an
Ilustrasi : Parwa ini merupakan salah satu seni langka di Bali. Seni parwa merupakan kesenian yang mengambil lakon cerita Mahabharata yang dahulu sangat populer di Bali terutama pada era tahun 1950’an

Jika upaya rekonstruksi tidak secepatnya dilakukan, dipastikan kesenian tradisional Bali yang beberapa di antaranya difungsikan sebagai seni bebali dan wali (menjadi bagian penting dari ritual keagamaan – red) akan tinggal nama. Generasi Bali masa depan tidak pernah lagi mengenal bagaimana rupa tari Legong Leko yang kaya akan unsur-unsur pelegongan atau tari Legong Keraton Pelayon yang mengedepankan keindahan gerak yang sangat kompleks dan dinamis maupun barisan panjang kesenian-kesenian langka lainnya. baca selengkapnya