Keunikan dan Kesakralan Tari Baris Desa Adat Batur


TARI Baris sakral milik Desa Pakraman Batur, hanya dipentaskan ketika ada upacara yang mempersembahkan binatang kurban suku pat (hewan berkaki empat). Saat upacara Danu Kertih di Pura Segara Danu Batur, tarian ini dipentaskan sebagai pelengkap yadnya. Tarian ini sudah ada sebelum penjajahan Belanda (1926).

Pelestarian tari baris sakral milik Desa Adat Batur ini dilakukan generasi muda yang tergabung dalam Tempek Teruna Baris Desa Pakraman Batur yang sampai kini beranggotakan 239 orang. Setiap pementasannya diiringi gamelan yang ditabuhkan Tempek Jero Gambel, dengan intonasi gamelan berbeda-beda.

Tari baris sakral milik Desa Pakraman Batur yang sampai kini masih dilestarikaan meliputi Baris Jojor, Baris Gede, Baris Bajra, Baris Perisi, Baris Dapdap. Selain gamelan yang berbeda-beda, atribut pakaian dan perlengkapan lain juga dipergunakan secara berbeda-beda. Begitu juga makna pementasannya.

Baris Jojor, pakaian yang dipergunakan adalah baju putih, celana putih dengan jumlah awiran kain 16. Keris yang digunakan berisikan kembang waru. Penari juga membawa tumbak dengan makna mencirikan siang dan malam. Tarian ini diiringi dengan gamelan longgor.

Baris Gede, warna bajunya merah serta celana panjang putih. Kain awiran yang dipergunakan 16 biji. Penari dalam pementasannya membawa tumbak warna merah dengan makna sebagai pencipta (hidup-mati). Diiringi intonasi gong longgor gilak. Tarian ini dipersembahkan kepada Ida Hyang Widi Wasa sebagai utpeti-stiti. Selanjutnya, Baris Bajra menggunakan baju warna hitam dengan celana warna putih. Kain awiran yang dipergunakan juga 16 biji. Tumbak yang dipergunakan ujungnya berisikan bajra lancip, ujungnya menghadap angkasa dan ke bawah. Untuk yang ke bawah mencirikan ibu pertiwi. Tujuan pementasannya adalah untuk Ibu Pertiwi dan luhuring akasa.

Untuk Baris Perisi, menggunakan baju warna merah berisikan gelang kana. Sama halnya dengan baris sakral lainnya celana panjang yang dipergunakan berwarna putih. Begitu juga dengan jumlah kain awiran sebanyak 16 biji. Bedanya, baris ini membawa tamiang dengan garis tengah 40 cm beserta senjata panah. Tamiang mencirikan sembilan arah mata angin, sedangkan panah mencirikan untuk menuju ke sembilan arah mata angin. Sedangkan Baris Dapdap menggunakan baju warna putih dengan belana panjang mabingkep. Kain awiran-nya hanya berjumlah 4 biji. Penari baris ini membawa perahu yang mencirikan upacara yang telah dipersembahkan kehadapan Ida Batara-Ida Batari saat akan masineb.

Dane Jero Gede Batur Alitan mengakui tarian ini merupakan salah satu warisan leluhur yang disakralkan Desa Adat Batur. Pementasannya hanya dilakukan saat mengiringi upacara di Batur atau upacara persembahan binatang kurban. Tarian ini juga pernah dipentaskan pada tahun 1958 ketika Jero Gede Alitan meninggal dan tahun 1968 dan ketika Jero Gede Batur Duhuran meninggal. Pada tahun 1966 dan 1982 tarian ini juga dipentaskan di Puri Ida Dalem Klungkung ketika upacara maligia dan 1976 ketika Raja Ubud maligia. Karena kesakralannya maka hanya dipentaskan pada waktu tertentu yaitu wali di pura dan upacara yang menurut leluhur dengan patokan yadnya dengan pengorbanan binatang suku pat.

Sumber : Bali POst Edisi 19 Desember 2009

Iklan

Profil : I Nyoman Ruma, Dibalik Buku Baris Sakral Desa Pekraman Batur


Baris sakral Batur yang terdiri dari Baris Jojor, Baris Gede, Baris Bajra, Baris Perisi, Baris Dadap dan dilengkapi dengan Tarian Rejang Renteng ini , tampaknya menjadi obyek pertanyaan bagi generasi muda di Batur.

Pertanyaan yang tidak bisa dijawab karena minimnya referensi, ditambah dengan ketakutan bahwa Baris Batur suatu saat akan ditiru seperti halnya beberapa jenis kesenian Bali dan nasional oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, membuat I Nyoman Ruma melakukan penggalian referensi dan informasi mengenai keberadaan tari baris sakral di Batur ini sejak tahun 2005 hingga akhirnya berhasil menyelesaikan penulisan buku selama 1 bulan 7 hari pada tanggal 27 Nopember 2011 dengan judul Baris Sakral Desa Pekraman Batur.

Buku yang sangat sederhana dengan hasil produksi dari mesin printer dengan kualitas rendah ini, dicetak sejumlah 20 Eksemplar. Dengan Dukungan Jero Gede Duhuran, Jero Gede Alitan, Kepala Desa Batur serta Camat Kintamani dll, Bapak Ruma yang lahir pada tahun 1943 ini berupaya untuk memohon pengakuan intelektual dan perhatian terhadap Baris Sakral Batur tersebut ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangli, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali bahkan sampai Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI di Jakarta.

Pada tahun 2011, Petugas dari Departemen Kebudayan dan Pariwisata sempat mendatangi beliau untuk meminta data tentang keberadaan baris sakral batur, walaupun sampai saat ini belum ada tindaklanjut secara nyata.

Profil : I Nyoman “Petruk” Subrata


Berkembang dari Seni Ludruk yang dikenal di Bali dari tahun 1962, Drama Gong telah mengalami masa kejayaannya sebagai hiburan yang ditunggu masyarakat Bali hingga kepelosok-pelosok desa.

Dalam proses tersebut, kita hampir melupakan sosok yang pernah menjadi ikon Drama Gong terpopuler di Bali yakni Petruk.
bernama asli I Nyoman Subrata, tokoh kelahiran 1 September 1949 ini adalah seniman serba bisa yang hingga saat ini masih eksis berkiprah dalam seni lawak dan prembon walaupun Drama Gong sudah mengalami kelesuan dalam perkembangannya.

Suami dari Ni Nyoman Sudiati dan ayah dari Ni Luh Putu Sri Pramesti serta Kadek Tresna Budi ini mulai berkiprah didrama gong pada tahun 1975. Pada tahun 1983, Bapak Nyoman Subrata juga pernah menjadi juara umum lawak Se-Bali.

Ngaturang ngayah hingga ke luar Bali seperti ; Lombok, Jakarta, Bogor, Palu, Palembang, Bontang (Kaltim) dan Pontianak ini membuktikan eksistensi beliau tidak lekang oleh arus modernisasi dan era instant saat ini.

Profil : Anak Agung Oka Hartawan


Sebagai masyarakat bercorak seni budaya dan religius, Bali telah berhasil mempertahankan identitasnya sampai pada apa yang diwariskan para leluhur kita kepada generasi penerus Bali saat ini.

Salah satunya adalah melalui warisan budaya religi disetiap desa pekraman yang senantiasa bercorak seni tradisi, menjadikan setiap jengkal budaya tersebut tetap eksis melengkapi nilai-nilai sosial dan spiritual masyarakat Bali.

Adalah Bapak Anak Agung Oka Hartawan, seorang tokoh asal Puri Kawan Tanggu-Bangli kelahiran tanggal 21 Agustus 1947, telah ikut mewarnai nilai tersebut dengan menjadi seorang pembuat Arca, Barong dan Topeng .

Berawal dari bimbingan Alm. Anak Agung Anom Rai dari Puri Denpasar-Bangli ratusan arca, barong dan topeng telah berhasil diselesaikannya dengan hanya sebuah semangat yakni ; ngayah untuk melestarikan budaya dan memenuhi panggilan jiwa.

Sebuah komitmen yang tidak pernah menuntut bayaran untuk setiap barong, arca dan topeng sakral yang diselesaikannya atas permintaan dari hampir 80 % Desa Pekraman di Seluruh Bangli ini, menjadikan beliau adalah sumber inspirasi nyata bagi kita bahwa dalam sebuah proses memaknai kehidupan, uang bukan segala-galanya.

Profil : I Nyoman Serod, Pelestari Seni Arja

Beliau adalah salah satu maestro pelestari Seniman Arja. Umur bagi beliau bukanlah halangan untuk melanjutkan misi melestarikan seni arja dan geguntangan di kabupaten Bangli. Pernah dinobatkan sebagai Pemeran Kartala Terbaik dalam Pekan Seni Arja Se-Bali pada tahun 1986 dan ngayah di berbagai desa di Bali bahkan sampai ke Pulau Jawa, menjadikan Bapak I Nyoman Serod sebagai seorang individu yang pantas untuk kita teladani

Lahir di Penatahan-Desa Susut 75 tahun silam, telah membentuk jiwa dan karakter seniman beliau sebagai pemeran kartala, yang mencapai kejayaan pada era 1967 sampai 1990.

Suami dari Ni Wayan Simpen dan ayah bagi empat putra dan putrinya yakni ; Ni Wayan Murniasih, Nengah Mudiasih dan Nyoman Selamet dan Ni Ketut Murtiningsih ini telah menerima penghargaan Seni Wija Kusuma Maha Bakti dari Bupati Bangli dan Darma Kusuma Pemerintah Propinsi Bali pada tahun 2006 sebagai bentuk pengakuan atas eksistensi dan dedikasi beliau bagi seni arja.