Seni dan Budaya : Gambuh

  Gambuh adalah tarian dramatari Bali yang dianggap paling tinggi mutunya dan juga merupakan dramatari klasik Bali yang paling kaya akan gerak-gerak tari, sehingga dianggap sebagai sumber segala jenis tari klasik Bali. Diperkirakan Gambuh muncul sekitar abad ke-15 dengan lakon bersumber pada cerita Panji. Gambuh berbentuk teater total karena di dalamnya terdapat jalinan unsur seni suara, seni drama dan tari, seni rupa, seni sastra, dan lainnya. Gambuh dipentaskan dalam upacara-upacara Dewa Yadnya seperti odalan, upacara Manusa Yadnya seperti perkawinan keluarga bangsawan, upacara Pitra Yadnya (ngaben) dan lain sebagainya. Diiringi dengan gamelan Penggambuhan yang berlaras pelog Saih Pitu, tokoh-tokoh yang biasa ditampilkan dalam Gambuh adalah Condong, Kakan-kakan, Putri, Arya/Kadean-kadean, Panji (Patih Manis), Prabangsa (Patih Keras), Demang, Temenggung, Turas, Panasar, dan Prabu. Dalam memainkan tokoh-tokoh tersebut semua penari berdialog umumnya menggunakan bahasa Kawi, kecuali tokoh Turas, Panasar dan Condong yang berbahasa Bali, baik halus, madya, atau kasar. Gambuh yang masih aktif hingga kini terdapat di desa:

  • Kedisan (Tegallalang, Gianyar)
  • Batuan (Gianyar)
  • Padang Aji dan Budakeling (Karangasem)
  • Tumbak Bayuh (Badung)
  • Pedungan (Denpasar)
  • Apit Yeh (Tabanan)
  • Anturan dan Naga Sepeha (Buleleng)

Artikel dan Gambar Sumber : Wikipedia.org

Iklan

Profil : Alm. I Dewa Made Rai Mesi

Alm. I Dewa Made Rai Mesi, adalah seorang tokoh seni pedalangan di Kabupaten Bangli yang lahir pada Sukra Kliwon, Wuku Bala Tahun 1917. Kiprah beliau yang tidak hanya terkenal di seantero Pulau Bali dan meletakan ciri khas seni wayang Bangli, namun juga di tingkat nasional sebagai Sesepuh Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENA WANGI) sejak tahun 1983 , sampai beliau kembali ke Sisi Tuhan Yang Maha Esa pada tanggal 15 April 2011

Dengan 7 istri dan 21 anak, yang beberapa diantaranya mengikuti jejak beliau untuk melestarikan seni pewayangan,  tentu adalah sebuah inspirasi bagi kita semua untuk mengikuti jejak beliau dalam spirit  pelestarian seni dan budaya Bali.

Prestasi dan penghargaan yang beliau terima sejak tahun 1977, seperti Parade Wayang Kulit tahun 1977, Dharma Kusuma Madia Tahun 1981,  Penghargaan Menteri Kesehatan RI Tahun 1982, Dharma Kusuma tahun 1988, Penghargaan Bupati Bangli tahun 1991, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 1993, Penghargaan Gubernur Bali tahun 2006, Wija Kusuma Maha Bhakti tahun 2006 dan penghargaan lain yang tidak terhitung jumlahnya, sangat pantas jika beliau kita kenang sebagai SENIMAN SEPANJANG MASA yang akan meninggalkan kepada kita dan generasi selanjutnya sebuah inspirasi untuk melanjutkan usaha keras beliau.

Profil : I Made Linggih (Jero Mangku Teja Kandel)

Seni Nyastra Bali, mungkin adalah sebuah seni yang saat ini mulai ditinggalkan oleh generasi muda Bali. Padahal sastra Bali adalah sebuah kekuatan dan pondasi yang kuat dalam mempertahankan taksu Bali.

Adalah Bapak I Made Linggih atau yang lebih kita kenal sebagai Jero Mangku Teja Kandel, yang telah membuka mata kita, bahwa Sastra Bali, bukan hanya sekedar huruf Bali atau tulisan Bali yang kita kenal, namun jauh dari itu menyimpan sebuah kekuatan dan taksu yang luar biasa.

 Banyak spiritualis baik dari Bali maupun mancanegara telah datang kepada beliau antara lain dari Jepang, Prancis, Inggris, Amerika, Turki, Brasil dll yang ingin mempelajari sastra Bali dan mendalami kekuatan spiritual yang ada didalamnya.

 Konsep beliau, bahwa satu-satunya cara untuk melestarikan seni dan budaya Bali adalah dengan mempelajarinya, memberikan kita inspirasi bahwa seni dan budaya Bali dalam berbagai bentuk dan rupa adalah khasanah dan warisan leluhur yang harus kita jaga.